RAUNG: Sepuluh Tahun Kemudian, Para Maung Berkumpul Lagi
Catatan dari Pameran Seni Rupa & Desain "RAUNG Maung #2"
Januar Benthoni Thamrin
11/2/20263 min read


Sepuluh tahun itu waktu yang cukup panjang. Cukup untuk berpindah kota, berganti pekerjaan, punya keluarga, dan sesekali lupa kapan terakhir memegang kuas. Tapi ada hal-hal yang tidak benar-benar hilang, misalnya pertemanan yang dulu dibangun di kampus seni, dan sebuah maung yang tetap menunggu untuk diaumkan lagi.
Tahun ini, 14 seniman alumni seni rupa UPI dan ITB angkatan 98 kembali berkumpul dalam RAUNG "Maung #2". Ini pameran kedua setelah Pameran Maung #1 satu dekade lalu. Pamerannya berlangsung 28 Oktober sampai 8 November 2026 di Galeri Sanggar Olah Seni, kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung. Pembukaannya pada Rabu, 28 Oktober pukul 16.00 WIB, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, semangat itu kembali. Sosok maung tetap sama, tetapi cara kami memandangnya sudah banyak bertambah.
Bagi kami, maung adalah lambang keberanian untuk berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab. Dari maung kita belajar kewaspadaan, kepekaan, dan kepedulian. Itulah semangat di balik RAUNG, sebuah seruan agar kita lebih peka pada lingkungan, bumi, dan kehidupan bersama.
Menariknya, satu tema yang sama melahirkan tafsir yang sangat beragam. Ini sebagian cuplikannya.
Agung Gumbira (Jack) menghadirkan tiga ilustrasi dunia persilatan: pendekar melawan siluman buaya, latihan pernapasan, dan rahasia jurus harimau.
Arief Yuliarso Caturputra (Borip) membawa maung pink yang akrab di komunitas seni rupa UPI. Ia hadir sebagai patung "Maung nu ngawas" dan lukisan "Jenaka Tapi Mulia", di samping "Maung Triple Visual", tiga raut wajah maung yang mengaum dalam satu bidang kanvas.
Anton Susanto menggambarkan maung lewat cukilan pada biji jengkol (Archidendron jiringa) di bawah kubah kaca. Judulnya "De Lever van Een Tijger".
Asayani menerjemahkan harimau yang bersembunyi di balik belukar menjadi batik dua lapis di atas katun dan sutra organdi.
Denny Sassen menghadirkan maung di tengah gedung-gedung lewat cukil MDF dua panel, mempertanyakan hak semua makhluk atas ruang hidup.
Banyak karya menyuarakan keresahan soal kebakaran hutan. Donny Hamdani (Boris) melukis helm dan membuat kritik satir tentang alien berjas yang mengusung harimau di tengah kobaran api. Rahmat Suhendrawan menggambar maung yang menghadang api dengan aumannya. Taufik Aziz bertanya lewat "AADM (ada apa dengan maung)", dengan pesan bahwa langit sang maung seharusnya selalu biru.
Ira Rengganis menampilkan harimau Lodaya di tengah mekarnya keindahan Parahyangan. Yoppy Yohana (Ki Ibun) membawa tiga karya, dari drawing pen di atas kulit pohon saeh dan kertas daluang sampai "Maung & Kujang". Asep Wahyu menyuguhkan "Tapak Maung" yang memadukan alam dan mitologi, serta karya digital "Maunx_heurin".
Nurochman (iROCK) melukis harimau putih yang teduh di tengah sapuan merah membara. Arlagan (Gink) memberi energi Pop Art lewat harimau merah di atas latar kuning dalam "Yellow It's Better".
Karya saya, "Maung Bukan Cacing", berangkat dari ungkapan "Menang Jadi Naga, Kalah Jadi Cacing". Lewat sosok harimau biru dari belakang, saya ingin menyoroti tipisnya batas antara rivalitas dan kebencian. Kemenangan sejati, menurut saya, diukur dari sportivitas dan kemanusiaan di luar lapangan.
Dari karya-karyanya terlihat bahwa kami tidak bernostalgia saja. Setelah sepuluh tahun, kami membawa media dan gagasan yang lebih luas: cukil, batik, drawing di kulit kayu, helm, digital painting, sampai UV print. Kegelisahan kami pun makin dekat dengan hal nyata, seperti hutan yang terbakar, habitat yang menyempit, dan kota yang terus tumbuh.
Sebagai manusia yang mengemban tanggung jawab menjaga bumi, kami berharap karya-karya ini bisa jadi pengingat bagi siapa pun yang datang. Bumi Pertiwi menunggu bakti kita semua.









