Coretan

Galeri kecil buat karya-karya visual yang pernah saya buat

Serigala Berbaju agama

banyak disekitar kita, banyak yang belum menyadari

Anjay

Anjing juga

Hitam Putih

Terkadang hitam dapat memperlihatkan wujud putih yang sebenarnya

Tergilas roda jalanan

Entah apa yang ada dipikiran masyarakat yang suka membuang bangkai tikus got ke tengah jalan, supaya tergilas roda kendaraan sampai gepeng dan kering

Cimahi - Gegerkalong

Seperti inilah suasananya pada jam sibuk ketika angkot masih jadi primadona

Tahu bulat x sundel bolong

terinspirasi dari film sundel bolong, sekarang yang dibelinya tahu bulat

Corona - Toyota

dibuat pada saat pandemi Covid-19

Loreng harimau

Lukisan harimau ini adalah pengingat bahwa sang raja hutan kini hanya tersisa motifnya abadi di dinding, meski tak lagi di alam

Suatu waktu tempo dulu

bisa ke luar angkasa itu biasa

escape from flat earth

bumi itu ngga datar ya

manusia harimau

mewujud

Brodella Antalopharga

ternyata zaman dulu raksasa itu memang ada di bumi yang salah satu tugasnya ngangon dinosaurus dan membantu membangun peradaban

Brodella

zaman dulu kaum raksasa membantu manusia membangun peradaban

alien astronot astral

apa hubungannya?

Gajah di pelupuk mata

Masa segede ini ngga kelihatan?

Sandal yang tertinggal

merespon penangkapan teroris pada 29 April 2021, di berita TV berulangkali disampaikan mengenai sendal jepit

Flatearth

imajinasi bentuk bumi setengah datar

Slap!

Parodi meme Batman menampar Robin, di awal pandemi Covid19 saat itu diisukan penyebab pandemi dari kelelawar

Caught the culprit

ketika kelelawar diisukan menjadi penyebab pandemi Covid19

Corona bottle

in pink

Melatih anak

setiap anak yang lahir di dunia ini memiliki tugasnya masing-masing, kita bekali supaya dapat menjalankan tugasnya sebaik mungkin di planet ini

Epilog

ROY JADI PETANI

Lelaki memiliki wanita, tapi dia dimiliki semua. Dia memang harus pergi, tapi juga harus kembali, karena ada yang mengasihi dan dikasihi." (Heri H Harris Balada Si Roy, episode Karnaval)

***

Saat menulis novel "Balada Si Roy", ada kekhawatiran nanti para perempuan akan mencengkeram lengan pasangannya sambil berkata sedih sedikit mengancam. "Yayang, awas! Kamu jangan pergi-pergi kayak Roy, ya! Pasti rinduku padamu nanti akan bergelora. Kalau tetep nekat pergi, ya sudah..."

Kekhawatiran saya ternyata tidak terbukti. Justru mereka mencari lelaki seperti Roy dan traveling bareng. Yang terjadi malah banyak ibu yang protes lewat surat ke saya, agar menyetop Balada Si Roy! Mereka mendapati anak-anaknya tidak pergi sekolah dan memilih traveling seperti "Roy".

Setelah tahu "Roy" itu tokoh fiksi rekaan saya, mereka melayangkan surat. Saya ingat betul, surat-surat itu datang dari Sumatra, Kalimatan, dan Sulawesi. Paling banyak dari Kalimantan.

Akhirnya saya hentikan di buku ke 10 dan Roy jadi petani!

*) Lukisan Roy jadi petani oleh Januar Benthoni Thamrin . Thanks, ya!

Hitam Putih

Omong kosong

JenL

Pandai merangkai kata

Sweet delusion

Dawson C

Tikus

Tikus kota beda negara

Pandax

menginjak sesuatu

Nyaweet

Semangat nyawit hasilnya sweet

Jualan Agama dan Surga

Banyak yang jual, banyak yang beli (ngga pake mikir)

Maung Bukan Cacing

Merupakan karya yang terinspirasi dari dinamika rivalitas sepak bola antara Persib Bandung dan Persija Jakarta, khususnya dari narasi suporter yang sering muncul dalam atmosfer pertandingan, termasuk ungkapan “Menang Jadi Naga, Kalah Jadi Cacing.” Ungkapan tersebut menjadi titik berangkat untuk merefleksikan bagaimana kemenangan dan kekalahan dalam sepak bola kerap dipandang sebagai persoalan harga diri yang berlebihan.

Dalam karya ini, maung dimaknai sebagai simbol keberanian, kebanggaan, dan semangat juang, sementara cacing menjadi simbol kondisi ketika seseorang kehilangan martabat atau merasa rendah diri karena kekalahan. Namun, karya ini tidak dimaksudkan untuk menempatkan satu kelompok sebagai pemenang dan kelompok lainnya sebagai pihak yang kalah. Sebaliknya, “maung” dan “cacing” menjadi metafora tentang bagaimana fanatisme dapat membentuk cara pandang manusia terhadap lawannya.

Lukisan ini mencoba mempertanyakan batas antara rivalitas dan kebencian. Persaingan dalam sepak bola sejatinya merupakan bagian dari keindahan olahraga: saling mendukung, bernyanyi, memberikan koreografi, membangun identitas komunitas, dan menunjukkan loyalitas kepada klub. Akan tetapi, ketika fanatisme berkembang menjadi kebencian, rivalitas dapat kehilangan nilai sportivitasnya. Kekalahan tidak lagi diterima sebagai bagian dari permainan, sementara kemenangan dapat digunakan untuk merendahkan pihak lain.

Melalui karya ini, “Maung Bukan Cacing” menjadi sebuah seruan bahwa menjadi pendukung klub tidak harus berarti menjadi musuh bagi pendukung klub lain. Rivalitas seharusnya berhenti ketika pertandingan selesai. Tidak semestinya kebencian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga menjadi prasangka, permusuhan, bahkan tindakan anarkis.

Karya ini juga menjadi refleksi terhadap generasi muda yang tumbuh dalam budaya sepak bola. Jangan mewariskan kebencian; wariskan kecintaan terhadap olahraga. Persib boleh dibela dengan sepenuh hati, Persija boleh dicintai dengan segenap jiwa, tetapi keduanya tetap berada dalam ruang yang sama: sepak bola sebagai olahraga yang seharusnya mempertemukan manusia, bukan memisahkan mereka.

“Maung Bukan Cacing” pada akhirnya bukan tentang siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah. Karya ini berbicara tentang bagaimana menjadi suporter yang berani tanpa harus membenci, fanatik tanpa kehilangan akal sehat, dan bangga tanpa merendahkan. Karena kemenangan sejati bukan hanya ketika tim kita menang di lapangan, tetapi ketika kita mampu menjaga sportivitas, persaudaraan, dan kemanusiaan di luar lapangan.

Hubungi saya

januar@benthoni.id

© 2026 benthoni