Merupakan karya yang terinspirasi dari dinamika rivalitas sepak bola antara Persib Bandung dan Persija Jakarta, khususnya dari narasi suporter yang sering muncul dalam atmosfer pertandingan, termasuk ungkapan “Menang Jadi Naga, Kalah Jadi Cacing.” Ungkapan tersebut menjadi titik berangkat untuk merefleksikan bagaimana kemenangan dan kekalahan dalam sepak bola kerap dipandang sebagai persoalan harga diri yang berlebihan.
Dalam karya ini, maung dimaknai sebagai simbol keberanian, kebanggaan, dan semangat juang, sementara cacing menjadi simbol kondisi ketika seseorang kehilangan martabat atau merasa rendah diri karena kekalahan. Namun, karya ini tidak dimaksudkan untuk menempatkan satu kelompok sebagai pemenang dan kelompok lainnya sebagai pihak yang kalah. Sebaliknya, “maung” dan “cacing” menjadi metafora tentang bagaimana fanatisme dapat membentuk cara pandang manusia terhadap lawannya.
Lukisan ini mencoba mempertanyakan batas antara rivalitas dan kebencian. Persaingan dalam sepak bola sejatinya merupakan bagian dari keindahan olahraga: saling mendukung, bernyanyi, memberikan koreografi, membangun identitas komunitas, dan menunjukkan loyalitas kepada klub. Akan tetapi, ketika fanatisme berkembang menjadi kebencian, rivalitas dapat kehilangan nilai sportivitasnya. Kekalahan tidak lagi diterima sebagai bagian dari permainan, sementara kemenangan dapat digunakan untuk merendahkan pihak lain.
Melalui karya ini, “Maung Bukan Cacing” menjadi sebuah seruan bahwa menjadi pendukung klub tidak harus berarti menjadi musuh bagi pendukung klub lain. Rivalitas seharusnya berhenti ketika pertandingan selesai. Tidak semestinya kebencian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga menjadi prasangka, permusuhan, bahkan tindakan anarkis.
Karya ini juga menjadi refleksi terhadap generasi muda yang tumbuh dalam budaya sepak bola. Jangan mewariskan kebencian; wariskan kecintaan terhadap olahraga. Persib boleh dibela dengan sepenuh hati, Persija boleh dicintai dengan segenap jiwa, tetapi keduanya tetap berada dalam ruang yang sama: sepak bola sebagai olahraga yang seharusnya mempertemukan manusia, bukan memisahkan mereka.
“Maung Bukan Cacing” pada akhirnya bukan tentang siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah. Karya ini berbicara tentang bagaimana menjadi suporter yang berani tanpa harus membenci, fanatik tanpa kehilangan akal sehat, dan bangga tanpa merendahkan. Karena kemenangan sejati bukan hanya ketika tim kita menang di lapangan, tetapi ketika kita mampu menjaga sportivitas, persaudaraan, dan kemanusiaan di luar lapangan.