Menjelajah Ternate dan Tidore: Maluku Utara yang Akhirnya Sempat Saya Nikmati
7/22/20264 min read
Saya sebenarnya sudah beberapa kali datang ke Ternate. Tapi jujur saja, kunjungan-kunjungan sebelumnya nyaris tidak menyisakan kesan mendalam soal keindahan alamnya. Jadwal kegiatan yang padat membuat waktu saya habis untuk urusan pekerjaan, dan yang tersisa hanyalah rutinitas kecil: makan ikan bakar, pisang goreng, minum guraka, serta sempat mampir ke Benteng Portugis Tolukko saja.
Perjalanan kali ini terasa berbeda. Urusan pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat dari perkiraan, sehingga saya punya cukup banyak waktu luang untuk benar-benar menjelajahi Ternate dan sekitarnya — sesuatu yang selama ini selalu tertunda.


Senja di Puncak Laguna
Sore harinya, kembali di Ternate, saya menyempatkan diri ngopi di kawasan Puncak Laguna. Dari sini, pemandangan Danau Ngade terlihat jelas — perpaduan antara danau air tawar hijau di bagian bawah, bentangan laut biru, serta Pulau Maitara dan Pulau Tidore yang berdiri gagah di latar belakang. Sudut pandang dari dataran tinggi ini cukup terkenal karena mengingatkan pada lanskap yang tercetak di lembaran uang kertas Rp1.000.
Malamnya, perjalanan hari itu ditutup dengan makan ikan bakar di pinggir pantai, sambil kembali menikmati pemandangan Pulau Maitara dan Pulau Tidore dari kejauhan.
Penutup
Sampai di sini dulu cerita jalan-jalan saya di Maluku Utara kali ini. Masih banyak pulau lain yang belum sempat dikunjungi, dan semoga ada kesempatan lain untuk menjelajahinya.
Maluku Utara memang terasa istimewa. Provinsi ini tercatat sebagai wilayah dengan penduduk paling bahagia di Indonesia, berdasarkan rilis data dari Badan Pusat Statistik (BPS), dengan Indeks Kebahagiaan tertinggi sebesar 76,34.


Berkeliling Tidore dengan Motor Sewaan
Sesampainya di Pelabuhan Rum, Tidore, saya menyewa sepeda motor dari tukang ojek setempat seharga Rp150.000. Setelah harga disepakati dan saling bertukar nomor ponsel, saya pun mulai mengelilingi pulau.
Jalanan yang saya lewati membentang di tepi pantai, mulus dan cukup sepi. Tidak perlu khawatir soal jajan, karena banyak warung dan Indomaret berjejer sepanjang jalan. Karena ini kunjungan pertama saya ke Tidore, misi utamanya sederhana: berkeliling pulau. Saat melewati Benteng Tahula, saya hanya berhenti sebentar untuk berfoto di depannya — melihat jumlah anak tangganya, saya memutuskan untuk naik ke atas lain kali saja, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Konturnya menarik: banyak tikungan, tanjakan, dan turunan, beberapa di antaranya cukup terjal. Kalau berencana melakukan hal serupa, pastikan kondisi mesin dan rem motor benar-benar prima. Sepanjang jalan saya beberapa kali berhenti untuk mengambil video dan foto suasana alamnya. Total waktu untuk mengelilingi pulau, dari pelabuhan kembali ke pelabuhan lewat sisi lain, kurang lebih dua jam.
Karena waktu sewa motor masih cukup banyak, saya memutuskan masuk ke tengah pulau, mengambil jalan sembarang, melewati kebun cengkeh dan tanaman lainnya. Tanpa terasa jalanan makin menanjak dan berkelok-kelok. Sempat ragu untuk melanjutkan, tapi akhirnya saya putuskan untuk terus jalan sampai ke dataran tinggi. Setelah melewati area perkebunan, ternyata ada perkampungan di sana, dan saya sempat beristirahat sejenak di kawasan Gurua. Kawasan ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang sangat memukau — gunung, ujung pulau di kejauhan, serta pulau lain di seberang lautan terlihat jelas dari sana.
Selepas dari Gurua, perjalanan jadi sedikit menegangkan karena ternyata rem motor kurang pakem, padahal jalan yang dilalui banyak turunan tajam. Terpaksa saya turun perlahan-lahan, dan syukurlah bisa sampai ke bawah dengan selamat. Belakangan baru saya sadari, rute naik-turun tadi ternyata setara dengan mengelilingi setengah pulau. Dalam perjalanan pulang ke pelabuhan, saya sempat melewati Kedaton Kesultanan Tidore, namun karena sedang tutup, saya hanya sempat berfoto di pintu masuknya sebelum melanjutkan perjalanan mengembalikan motor ke tukang ojek. Satu hal yang jangan sampai terlewat: jangan lupa mengisi bensin motor sewaan hingga kapasitasnya kembali seperti semula.
Saya cukup puas dengan perjalanan di Tidore kali ini, meski sebenarnya ingin lebih lama lagi. Perjalanan kembali ke Ternate saya tempuh lagi dengan speedboat, dan kali ini speedboatnya terasa jauh lebih stabil, sehingga perjalanan singkat menuju Pelabuhan Balitong bisa lebih dinikmati.














Danau Tolire yang Memesona
Kesempatan pertama saya manfaatkan untuk mengunjungi Danau Tolire. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Ternate, dan jalan menuju ke sana melewati kawasan Batu Angus — meski kali ini saya memilih untuk tidak berhenti dan langsung menuju danau.
Begitu sampai, pemandangannya sungguh memukau. Air danau berwarna hijau, dikelilingi pepohonan rimbun, dengan Gunung Gamalama berdiri gagah di belakangnya — kombinasi yang terasa begitu epik. Mata saya seperti langsung disegarkan oleh pemandangan itu. Di sana saya mencoba mitos yang sering diceritakan orang: melempar batu ke arah danau dan konon batunya tidak akan pernah terlihat memercik di air. Entah karena lemparan saya kurang jauh, atau karena tertutup dedaunan di pinggiran danau, yang jelas batu itu benar-benar tidak terlihat sampai jatuh ke air.
Selepas dari danau, saya menyeberang jalan menuju sebuah kafe kecil tak jauh dari sana. Di situ saya menikmati matahari terbenam ditemani secangkir kopi, pisang goreng, dan segelas air guraka hangat — penutup sore yang sederhana tapi pas.
Menyeberang ke Tidore
Petualangan berikutnya sudah menanti pada hari berikutnya: menyeberang ke Pulau Tidore. Rasanya belum lengkap kalau sudah jauh-jauh ke Ternate tapi tidak menginjakkan kaki di Tidore. Selepas sarapan, saya langsung menuju Pelabuhan Balitong, membayar Rp2.000 untuk biaya masuk pelabuhan, lalu naik speedboat yang akan mengantar ke seberang.
Bagi saya yang jarang naik transportasi laut, proses naik ke speedboat ini lumayan menegangkan — harus melewati celah antara platform pelabuhan dan badan kapal. Speedboat ini juga bisa memuat sepeda motor, dengan kursi penumpang yang saling berhadapan. Untuk penumpang tanpa motor, tarifnya Rp15.000, dengan waktu tempuh hanya sekitar 10–15 menit. Meski singkat, kapal cukup bergoyang kiri-kanan sepanjang perjalanan, sampai membuat kepala terasa pusing dan sedikit mual.
