HP Selalu di Tangan, Tapi Kok Literasi Kita Masih Dianggap Rendah?
4/23/20263 min read


Pernah dengar kalimat "minat baca orang Indonesia rendah"? Sepertinya kita sudah sering mendengar stigma itu. Tapi coba lihat sekeliling. Di kereta, di warung kopi, bahkan di toilet sekalipun, semua orang pegang HP. Mereka membaca status WhatsApp, scrolling TikTok, komen Instagram, atau sekadar membaca berita singkat. Kalau begitu, kenapa literasi kita tetap dianggap rendah? Jawabannya sederhana: yang diukur itu beda dengan apa yang benar-benar dilakukan sehari-hari.
Survei internasional seperti PISA biasanya mengukur kemampuan membaca teks panjang, kritis, dan reflektif. Jenis bacaan seperti artikel ilmiah, novel tebal, atau laporan riset. Sementara di HP, mayoritas dari kita membaca status WA yang hanya satu dua baris, komentar Instagram yang kadang isinya cuma "wkwkwk" atau "setuju banget", serta berita kilat yang hanya judulnya saja tanpa isi yang benar-benar dibuka. Ini sangat berbeda. Bukan berarti kita malas membaca, tetapi kebiasaan baca kita belum masuk dalam hitungan versi mereka.
Sebenarnya ada kabar baik di tengah kekhawatiran ini. Peringkat PISA Indonesia naik lima posisi di tahun 2022. Generasi Z tercatat dua puluh enam persen lebih aktif membaca dibanding Milenial yang dua puluh persen dan Gen X yang delapan belas persen. Anak muda sekarang ternyata lumayan doyan membaca. Pasar buku Indonesia juga diproyeksikan tembus tujuh ratus empat puluh delapan juta dolar AS di tahun 2033, yang menandakan bahwa minat beli buku itu ada, terutama untuk genre misteri dan komik yang sedang naik daun. Namun kabar buruknya, hanya sekitar dua puluh koma tujuh persen masyarakat yang membaca buku setiap hari. Sisanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan konten pendek atau video. Selain itu, hanya empat puluh empat koma lima puluh enam persen siswa yang memanfaatkan perpustakaan. Artinya, infrastruktur literasi fisik belum menjangkau semua orang dengan baik. Alasan utama orang tidak membaca adalah kurangnya waktu, rasa malas, dan kalah saing dengan konten hiburan di HP.
Mengapa ini bisa terjadi? Setidaknya ada tiga faktor utama. Pertama, buku fisik sulit didapat. Toko buku makin jarang, terutama di daerah. Harga buku mahal, belum lagi ongkos kirim jika membeli secara online. Proses pembeliannya pun terasa rumit bagi sebagian orang. Kedua, konten di HP saat ini didominasi oleh hiburan instan. Algoritma TikTok, Instagram, dan YouTube lebih suka menayangkan video pendek yang lucu atau viral, sementara konten panjang yang membuat kita berpikir kurang diuntungkan. Ketiga, definisi literasi yang digunakan selama ini terlalu sempit. Membaca komentar atau status WA tidak dianggap sebagai aktivitas membaca oleh para pengukur literasi, padahal itu juga kegiatan baca, hanya saja bentuknya berbeda.
Lalu apa solusinya? Daripada terus menerus mengeluh tentang rendahnya literasi, ada beberapa hal realistis yang bisa kita lakukan bersama. Pemerintah sebenarnya sudah memiliki platform bacaan digital gratis seperti budi.kemendikdasmen.go.id yang menyediakan ribuan buku, serta buku sejarah digital sebelas jilid yang bisa diakses gratis. Hanya saja sosialisasinya masih kurang masif sehingga banyak yang tidak tahu. Kita bisa membantu menyebarkan informasi ini ke teman-teman melalui grup WA atau media sosial. Selain itu, literasi digital perlu dibuat lebih menarik. Jangan hanya berupa ceramah atau seminar kilat. Libatkan kreator konten, BookToker, atau komunitas baca agar literasi terasa lebih kekinian dan relevan dengan anak muda.
Kementerian Komdigi juga tengah memasang target internet murah dengan kecepatan seratus Mbps seharga seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah per bulan untuk dua puluh juta pengguna baru. Jika ini terealisasi, akses ke ebook, jurnal, atau artikel panjang akan semakin mudah. Yang tidak kalah penting adalah mengubah cara pandang kita. Jangan terus menyalahkan masyarakat dengan cap malas membaca. Coba tanyakan kembali, apakah bacaan berkualitas sudah mudah diakses di HP mereka? Apakah bacaan tersebut sesuai dengan minat mereka? Karena pada akhirnya, orang akan membaca jika bacaannya menarik, mudah didapat, dan sesuai dengan apa yang ia sukai.
HP bukanlah musuh literasi. Justru HP adalah peluang terbesar untuk meningkatkan kebiasaan baca masyarakat. Bayangkan, rata-rata orang Indonesia memegang HP selama lima hingga enam jam setiap hari. Jika hanya sepuluh persen dari waktu itu digunakan untuk membaca ebook atau artikel panjang yang berkualitas, dampaknya akan luar biasa. Jadi daripada pusing dengan stigma literasi Indonesia yang rendah, lebih baik kita mulai dari diri sendiri. Sisihkan lima belas menit setiap hari untuk membaca buku digital di HP. Bagikan bacaan bagus ke teman-teman. Dukung platform bacaan gratis dengan cara menggunakannya. Karena literasi bukanlah soal seberapa tebal buku yang kamu baca, melainkan seberapa dalam kamu memahami dan memanfaatkan informasi yang kamu peroleh, melalui media apa pun. Mulai sekarang, yuk jadikan HP kita sebagai perpustakaan saku, bukan hanya mesin hiburan semata.
