Bahasa yang Merekatkan Kita

4/10/20261 min read

Dua puluh delapan tahun lalu, tepat setelah lulus SMU, saya sempat merasa heran melihat pilihan salah seorang teman. Ia memutuskan mendaftar ke jurusan Bahasa Indonesia. Saat itu, pemikiran saya cukup dangkal; saya merasa tidak ada hal istimewa yang perlu dipelajari secara akademis karena toh, dalam keseharian, kami sudah menggunakan bahasa tersebut sejak lahir.

Namun, berjalannya waktu membuka mata saya. Pemikiran saya dulu ternyata keliru. Di dunia profesional, penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar justru menjadi nilai tambah yang krusial. Kemampuan berkomunikasi secara efektif, menulis laporan yang terstruktur, dan bernegosiasi dengan tutur kata yang tepat adalah keterampilan yang sangat diutamakan.

Lebih dari itu, saya sadar bahwa Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah "rumah" yang menaungi kita. Indonesia bisa bertahan utuh hingga saat ini karena adanya satu bahasa yang menjadi pengikat ribuan suku bangsa. Seperti tercantum dalam sejarah Sumpah Pemuda, negara ini sejatinya dilahirkan atas nama bahasa. Tanpa bahasa persatuan ini, kita mungkin hanya akan menjadi kumpulan pulau yang terfragmentasi.

Saya sering merenung melihat kondisi di beberapa negara “serumpun” yang masih bergumul dengan tantangan persatuan. Di sana, keragaman suku seringkali membuat bahasa daerah lebih dominan digunakan dibandingkan bahasa nasionalnya. Akibatnya, integrasi bangsa menjadi lebih sulit dicapai karena setiap kelompok lebih nyaman berbicara dengan bahasanya masing-masing.

Melihat kenyataan itu, kita patut bersyukur. Bahasa Indonesia adalah anugerah yang memungkinkan semua suku dapat saling memahami tanpa sekat. Oleh karena itu, mari kita rawat warisan ini. Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan bangga dalam keseharian, karena setiap kata yang kita ucapkan adalah bukti cinta kita pada keutuhan negeri.